Penyakit Hipertensi


 PENYAKIT jantung HIPERTENSI


 Hipertensi adalah (Kamus Besar Bahasa Indonesia)


1. tekanan darah atau denyut jantung yg lebih tinggi dp normal krn penyempitan pembuluh darah atau gangguan lainnya.

PENGERTIAN DEFINISI HIPERTENSI

  1. Hipertensi didefinsikan sebagai kenaikan tekanan darah arterial yang bertahan. The Sixth Joint Natinal Comitte on the Detection, Evaluation, dan Treatment of High Blood Presure (JNC-VI) menggolongkan tekanan darah dewasa seperti pada

  1. Pasien dengan nilai diastolic blood presure (DBP) <90 mmHg dan systolic blood presure (SBP) >140 mmHg mempunyai hipertensi terbatas pada sistolik.

  1. Peningkatan bermakna pada tekanan darah (ke level lebih tinggi stage 3) adalah krisis hipertensi, yang bisa melambangkan hypertensive emergency (kenaikan tekanan darah dengan cedera akut target organ) atau hypertensive urgency (hipertensi akut tanpa tanda atau simtom komplikasi akut target organ).

PATOFISIOLOGI PENYAKIT HIPERTENSI

  1. Hipertensi adalah kelainan heterogen yang bisa muncul dari penyebab spesifk (hipertensi sekunder) atau dari mekanisme patofisiologi yang tidak diketahui penyebabnya (hipertensi primer atau esensial). Hipertensi sekunder terjadi pada kurang dari 5% kasus, dan kebanyakan disebabkan oleh renoparenchymal kronik atau penyakit renovascular. Kondisi lain yang menyebabkan hipertensi sekunder termasuk pheochromacytoma, sindroma Cushing, hipertiroid, hiperparatiroid, aldosteronisme primer, kehamilan, peningkatan tekanan intercranial, dan koarktasi (penyempitan) aorta. Beberapa obat yang bisa menaikkan tekanan darah termasuk kortikosteroid, estrogen, amfetamin/anorexians, MAO inhibitor, dekongestan oral, venlafaxine, siklosporin, NSAID, dan hormon tiroid.
  2. Banyak faktor yang bisa menyebabkan pengembangan hipertensi primer, termasuk:
a)      Gangguan patologis pada central nervous system (CNS), serat saraf otonom, reseptor adrenergik, atau baroreseptor.
b)      Abnormalitas pada renal atau jaringan autoregulator yang mengatur proses ekskresi natrium, volume plasma, dan konstriksi alteriolar.
c)      Abnormalitas humoral, termasuk renin-angiotensin-aldosteron system (RAS), hormon natriuretik, atau hiperinsulinemia.
d)     Defisiensi pada sintesis setempat substan vasodilator pada endotel vascular, seperti prostasiklin, bradikinin, dan nitric oxide, atau peningkatan produksi substan vasokonstriktor seperti angitensin II dan endotelin I.
e)      Asupan natrium yang tinggi dan peningkatan hormon natriuretik di sirkulasi yang menginhibisi transpor natrium intraseluler, sehingga reaktivitas vaskular meningkat dan tekanan darah naik.
f)       Peningkatan konsentrasi kalsium intraseuler, sehingga fungsi otot polos vaskular berubah dan terjadi peningkatan tahanan vaskular perifer.
  1. Penyebab utama kematian pada pasien hipertensi adalah kejadian cerebrovascular, cardiovascular, dan gagal ginjal. Kemungkinan untuk kematian prematur berkaitan dengan tingkat keparahan naiknya tekanan darah.


CIRI KLINIK PENYAKIT HIPERTENSI

  1. Pasien dengan hipertensi primer uncomplicated biasanya awalnya asimtomatik.

  1. Pasien dengan hipertensi sekunder biasanya mengeluh mengenai simtom yang dari situ bisa dicari penyebabnya. Pasien dengan pheochromocytoma bisa mempunyai riwayat sakit kepala paroksimal, berkeringat, takikardi, palpitasi, pusing orthostatik, atau sinkop. Pada aldosteronisme primer, simtom hipokalemik kejang otot dan merasa lemah bisa muncul. Pasien dengan hipertensi sekunder karena sindroma Cushing bisa mengeluh beratnya bertambah, poliuria, edema, menstruasi tidak teratur, sering muncul jerawat, atau otot yang lemah.


DIAGNOSIS PENYAKIT HIPERTENSI

  1. Seringkali, satu-satunya tanda hipertensi primer pada pemeriksaan fisik adalah kenaikan tekanan darah. Diagnosis hipertensi harus berdasar pada rerata dua atau lebih pemeriksaan yang diambil tiap dua atau lebih kunjungan.
  2. Pada perkembangannya, tanda kerusakan organ mulai muncul, terutama terkait pada perubahan patologis di mata, otak,  jantung, ginjal, dan pembuluh darah perifer.
  3. Pemeriksaan funduscopic bisa menunjukkan penyempitan arteriolar, penyempitan arterioral focal, arteriovenous nicking, dan hemorrhage retina, exudates, dan infark. Munculnya papilledema mengindikasikan hypertensive emergency yang memerlukan perawatan secepatnya.
  4. Pemeriksaan cardiopulmonal bisa menunjukkan denyut jantung atau ritme yang abnormal, hipertropi ventrikular, precordil heave, murmur (suara jantung yang tidak biasa menandakan kelainan fungsional atau struktural), third or fourth heart sounds, dan rales (suara abnormal yang terdengar mengikuti suara respirasi normal).
  5. Pemeriksaan vaskular perifer bisa mendeteksi bukti atherosklerosis, yang bisa muncul sebagai bruits (suara yang terdengar sewaktu diagnosa dengan stetoskop) aortic atau abdominal, pembesaran vena (karena tekanan internal), hilangnya denyut perifer, atau edema ekstremitas bawah.
  6. Pasien dengan stenosis arteri renal bisa mempunyai bruit sistolik-diastolik yang abnormal. Mereka yang dengan sindroma Cushing bisa mempunyai ciri fisik klasik moon face, buffalo hump (…), hirsutisme, dan striae (area pada kulit berbentuk garis dengan perbedaan jelas dengan sekitarnya) abdominal.
  7. Serum kalium rendah sebelum  dimulainya terapi antihipertensi bisa menandakan hipertensi yang dirangsang oleh mineralokortikoid. Adanya protein, sel darah, dan casts di urine bisa mengindikasikan penyakit parenkim ginjal.
  8. Tes laboratorium sebaiknya didapatkan pada semua pasien untuk memulai terapi obat termasuk urinalysis, hitung sel darah lengkap, kandungan kimia serum (natrium, kalium, kreatinin, glukosa sewaktu puasa, dan total kolesterol serta HDL-C), dan 12-lead ECG. Tes ini digunakan untuk menaksir faktor resiko lainnya dan untuk membuat data baseline untuk monitorng perubahan metabolik karena obat.
  9. Tes laboratorium yang lebih spesifik digunakan untuk mendiagnosa hipertensi sekunder. Ini termasuk norepinefrin plasma dan level metanefrin urin untuk pheochromocytoma, level plasma dan urin aldosterone untuk aldosteronisme primer, dan aktivitas plasma renin, tes stimulasi kaptopril, renin vena renal, dan angiografi arteri renal untuk penyakit renovascular.




TUJUAN GOAL TERAPI HIPERTENSI HASIL YANG DIINGINKAN

  1. Tujuan umum perawatan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan mortalitas dengan cara intrusi terakhir yang mungkin.
  2. Tekanan darah yang diinginkan adalah <140/90 untuk uncomplicated hypertension; <130/85 untuk pasien dengan diabet melitus, gangguan fungsi ginjal, atau gagal jantung; <125/75 untuk mereka dengan penyakit renal parah dengan proteinuria >1 g/hari; dan <140 mmHg (sistolik) untuk isolated systolic hypertension.

Source : Dipiro

Terimakasih, semoga bermanfaat.
Wasalamualaikum

0 Response to " Penyakit Hipertensi "

Post a Comment

Artikel Lainnya

loading...

Random post